Selamat Jalan, Bang Buyung

Sang ‘Abang’ begitulah para aktivis tahun 90-an, sampai tumbangnya rezim Soeharto tahun 1998, memanggil Adnan Buyung Nasution.

Kini kita kehilangan besar, sang ‘Abang’ meninggalkan bangsa ini untuk selama-lamanya. Selamat Jalan, Abang!

Panggilan yang sangat akrab dan menyamankan meski bagi para aktivis muda usia, yang turun ke jalan meneriakkan protes terhadap pemerintahan Orde Baru. Betapa merasa aman dan tenang, ketika berada dekat dengan ‘Abang’ menceritakan berbagai tindakan kekerasan aparat keamanan sampai penangkapan para aktivis.

‘Abang’, sesungguhnya tak hanya teman yang menyamankan. Ia juga seperti dewa pelindung bagi para aktivis. Ia tampak tak pernah merasa lelah menemui para aktivis yang selalu bertanya macam-macam, selalu meminta macam-macam, dari mulai meminta nasehat, sampai meminta uang untuk pulang ke daerah asal aktivis, setelah demo di Jakarta.

‘Abang’ yang mengerti benar situasi perlindungan HAM yang kelabu pada masa rezim Orde Baru, mendirikan Lembaga Bantuan Hukum, agar bisa memberikan dukungan bagi masyarakat kebanyakan yang ditindas penguasa. Penerbitan Buku catatan tahunan HAM di Indonesia, selalu dinanti para aktivis, sebagai bahan rujukan membangun perlawanan.

Tak sedikit masyarakat yang merasakan manfaat dari buah pikiran sang ‘Abang’. Dengan mengabaikan keselamatan diri sendiri, ia terus membela masyarakat, membela para aktivis. Seakan tak sedetik pun pikirannya kosong dari persoalan-persoalan yang dihadapi anak bangsa ini.

Sebuah kehilangan besar bagi Negeri ini, ketika sang ‘Abang’ pergi untuk selama-lamanya. Terlebih saat Negeri sedang menghadapi pelemahan penegakan HAM. Komnas HAM yang digadang-gadang menjadi garda terdepan perlindungan HAM tak bisa menunjukkan tajinya.

Maka sudah selayaknya, pemerintah memberinya gelar pahlawan nasional untuk menghargai perjuangannya, meski saya yakin seyakin-yakinnya, ‘Abang’ tak membutuhkannya.

Selamat jalan ‘Abang’. Gagasan dan tindakan yang engkau tunjukkan, tak akan pernah terlupakan, dan akan tetap menjadi inspirasi dalam pembelaan terhadap HAM dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Sumber gambar: tempo.co

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.