Ini Strategi Pemimpin

Betapa sakitnya hati seorang manakala perintahnya tak mendapat respons atau tak digubris orang yang dipimpinnya. Tentu ada yang salah dalam strateginya.

Setidaknya ada tiga strategi seorang pemimpin dalam membangun kepatuhannya. Setiap strategi yang dipilih terkait erat dengan seberapa kapasitas pengetahuan yang dimilikinya. Sebab masing-masing strategi memiliki risiko yang berbeda dalam gaya kepemimpinannya.

Pertama, seorang pemimpin yang membangun kekuasaannya dengan cara menciptakan sekat-sekat ruang, dan membuat sedemikian rupa rumitnya seseorang bisa menemuinya. Kalau dia pejabat tinggi, prosedur untuk bisa menemuinya atau berbicara kepadanya aturan mainnya menjadi sedemikian ketatnya. Sehingga akan tercipta gambaran betapa hebatnya sang pemimpin.

Melalui pendisiplinan spasial ini, akan tercipta jarak antara dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya. Jarak inilah yang akan membangun kepatuhan, karena setiap orang tak mampu membaca pikiran pemimpinnya. Kepatuhan pada akhirnya tercipta karena orang-orang mencari selamat semata-mata. Sebuah kepatuhan buta, yang bisa melahirkan persoalan serius dalam masa kepemimpinan seseorang.

Pilihan strategi semacam ini tercipta karena seorang pemimpin merasa tak memiliki kapasitas yang mumpuni dalam menjawab berbagai persoalan. Kalau toh selama bisa ini merespon situasi, lebih banyak karena bisikan-bisikan orang-orang di sekitarnya. Bukan sama sekali hasil dari olah pikir dan pengalamannya sendiri.

Kedua, seorang pemimpin yang membangun kekuasaannya justru dengan membangun kedekatan dengan orang-orang yang dipimpinnya. Ia membuka ruang komunikasi seluas-luasnya, sehingga siapa saja bertemu dengan mudah. Tak ada prosedur ketat yang harus diikuti untuk bisa bertemu, berbicara, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis kepadanya.

Kepatuhan dibangun dengan kedekatan spasial, melakukan dengan mendemonstrasikan kapasitas dan keluasan pengalaman dirinya (pengetahuan dan keterampilan). Maka tak ada ketakutan sama sekali untuk bertemu dengan siapa pun. Sebab ia sama sekali tak mengandalkan Informasi dari pembisik dalam menjawab berbagai pertanyaan yang datang tiba-tiba sekali pun.

Pilihan strategi ini didasarkan pada upaya membangun kekuasaannya dengan menunjukkan kapasaitas dirinya, kapasitas personalnya. Kepatuhan seperti ini biasanya akan lebih awet, dan bahkan manakala seseorang tak lagi memegang kekuasaan sebagai pemimpin.

Ketiga, seorang pemimpin yang membangun kepatuhan dengan cara membangun sikap culun, kedungu-dunguan, untuk menarik sikap belas kasih dari orang-orang yang dipimpinnya. Ia mencoba menarik simpati, dengan menunjukkan sifat-sifat jujur, menerima, dan sabar.

Dengan membangun simpati ini, diam-diam ia sedang menciptakan kepatuhan berdasarkan rasa iba. Betapa jahatnya orang yang melakukan ketidakpatuhan terhadap pemimpin memelas ini. Konflik horizontal akan terjadi. Dalam posisinya konflik semacam ini, ia akan mengambil manfaat dan keuntungan dengan lagi-lagi mencitrakan diri sebagai pemimpin yang bijak, sabar dan memahami.

Kalau, jika menjadi pemimpin, mana sebaiknya strategi yang akan dipilih, meskipun sesungguhnya sedang sama-sama menciptakan kepatuhan dalam kekuasaannya.

Sumber gambar: tempo.co

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.