Majalah Tempo, Sensitivitas Buruh Tiongkok

Kita tak bisa mengerti saat membaca Majalah Tempo dengan mengambil laporan utama Selamat Datang Buruh Cina.

Isu mengenai etnis Cina di Indonesia bisa dibilang masih sensitif. Sedikit provokasi saja, sudah akan menyulut kerusuhan yang sulit dihentikan. Kita tentu saja masih ingat kasus kerusuhan akibat isu etnis Cina di Solo dan terakhir di Jakarta, yang mengakibatkan sejumlah korban tewas dan perempuan Cina menjadi korban kekerasan seksual.

Laporan Tempo mengenai buruh Cina memang benar adanya. Hanya saja sangat tak tepat dilansir pada situasi ekonomi Indonesia yang sedang melemah saat ini. Publik akan sangat dengan mudah menjadikan etnis Cina sebagai sebab terjadinya penderitaan dan pemiskinan rakyat di negeri ini.

Kita berpendapat jurnalisme memang bertugas bisa menyampaikan kebenaran kepada khalayak dengan segera. Tetapi kita juga meyakini jurnalisme memiliki tanggung jawab untuk bisa menghindarkan terjadinya kerusuhan sosial akibat dari informasi yang dirilisnya.

Di sinilah titik batas rasionalitas jurnalisme dalam mengeluarkan laporan, akan mementingkan kebenaran yang segera tersampaikan sebagai bagian dari ideologisnya.

Atau menunda sementara agar menghindari ragam persoalan yang mungkin muncul akibat pemberitaan yang dilakukannya. Dalam situasi masuknya buruh Cina dan pelemahan ekonomi di negeri ini, dalam hemat kami tak tepat menggunakan istilah momentum dalam menyampaikan laporan ini.

Kita berharap, aksi demo esok hari, 1 September 2015, tak mengembangkan isu buruh Cina. Meskipun dalam salah satu tuntutannya memuat item agar pemerintah tak mempermudah masuknya tenaga kerja asing. Tentu salah satu yang menjadi sasarannya, mungkin persoalan buruh Cina. Dan laporan Majalah Tempo bisa jadi merupakan salah satu referensi yang penting.

Sumber gambar: tempo.co

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.