Kekerasan Terhadap Perempuan

Sejak pagi Kliwon tampak sibuk mengakses berbagai situs berita melalui gadgetnya. Berulang kali pula ia tampak menghela napas panjang. Ada raup wajah kecewa membayang di wajahnya. Siang semakinmeninggi, apa yang dicarinya belum juga didapat. “Sudah pada lupa atau media yang tak lagi peduli,” katanya.

“Ada apa, to Pak?” Tanya istri Kliwon, sambil duduk di samping Kliwon. Tangannya membeber sebuah harian versi cetak, dan menunjukkan kepada Kliwon, “baca ini,” katanya.

Kliwon mengambilnya, dan sejenak membenarkan posisi kaca mata plusnya yang melorot sampai ujung hidung. Sedetik kemudian ia tampak serius membaca berita di harian itu.

“Dunia memang sudah semakin renta. Akal sehat telah menghilang entah ke mana,” katanya setelah membaca habis berita itu.

“Kekerasan perempuan terjadi di mana-mana. Pemukulan, penelantaran, dan pemerkosaan.”

“Tetapi apa daya kita,” lanjut Kliwon lirih seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

“Kita harus meneriakkan soal ini,” kata istri Kliwon.

“Dengan apa, kita punya apa? Mereka yang mengaku aktivis juga tidak melakukan apa-apa.”

“Jangan sembarangan bicara. Orang terus menerus berteriak soal ini,” kata istri Kliwon,

“Nyatanya?”

“Kita sudah memiliki UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.”

“Lah, dengan UU itu malah mempersempit layanan terhadap perempuan.”

“Maksudmu?”

“Lihat saja layanan negara seakan hanya untuk perempuan dalam rumah tangga saja.”

“Namanya juga penghapusan dalam rumah tangga.”

Kliwon terus asyik bercengkerama dengan istrinya. Ia membuka lagi layar gadgetnya. Ia kembali menghela napas panjang. Ia meletakkan gadget di atas meja. Ia masuk ke dalam rumah dengan memukul keningnya berkali-kali.****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.