Membangun Kembali Rumah Gagasan

Geger media sosial,  ternyata berakibat secara langsung pada daya tahan seseorang dalam memelihara blog. Banyak blog yang sebelum adanya pikuk media sosial menjadi arena uji coba dan penyebaran gagasan alternatif saat media mainstream tak mampu atau tak memungkinkan menampung semua gagasan publik. Kini sebagian blog hanya berisi konten copy-paste.

Apa persoalannya?  Tak ada masalah sebetulnya. Tetapi yang menjadi gegetun dengan fenomena ini, banyak orang lantas menjadi instan.  Gagasan cemerlang yang dimiliki tak pernah lagi bisa dikupas dengan kritis, karena pokok soal dengan begitu saja dilempar ke media sosial yang memang disediakan untuk ruang terbatas. Dengan demikian eksperimentasi gagasan dan pemikiran kritis yang dituliskan agak sedikit lebih panjang tak lagi tersedia.

Terlebih dengan tersedianya berbagai blog yang dikelola oleh berbagai media mainstream,  dengan label jurnalistik warga,  blog individu semakin menipis untuk tidak mengatakan hilang sama sekali. Orang tidak lagi memiliki kepercayaan diri untuk menulis dalam rumah gagasannya sendiri. Mereka lebih memilih untuk mendompleng pada blog-blog besar yang dikelola orang lain. Alasannya tentu saja gagasan yang mereka lontarkan langsung bisa dibaca banyak orang.

Argumentasi ini tak salah seluruhnya. Persoalannya dengan pilihan ini, kita sendiri tidak akan mampu membangun suatu gagasan yang utuh dan besar. Pada sisi yang lain,  kita juga tidak bisa menunjukkan karakter tulisan dan ke mana arah pemikiran yang memang kita bangun. Lalu, mari kita bangun kembali rumah khas gagasan kita,  dan untuk menyebarkannya kita share melalui microblog yang memuat pokok gagasan sambil dilengkapi dengan link blog kita untuk gagasan utuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.