Tentang Ruang Editor

Tugas editor? Pertanyaan pendek ini cukup menyita waktu untuk berpikir. Memang sudah cukup banyak buku mengenai peran seorang editor. Karena luasnya peran, sehingga editor dikategorisasi, misalnya, khusus editor bahasa dan ada editor isi. Untuk membagi informasi yang saya berikan ke kawan lama saya, saat diskusi pagi ini, saya unggah tulisan ini.

Menurutku ada beberapa ruang yang bisa dilakukan. Ruang 1, sebatas melakukan perbaikan atau pembenaran bahasa. Misalnya, ketika dalam naskah tertulis “agar supaya”, kita perbaiki menjadi “agar” atau “supaya”. Prinsipnya, agar bahasa yang digunakan menjadi sesuai dengan EYD. Contoh, kalau di naskah tertulis “sholat” atau “solat” kita ubah menjadi “salat”. Ketika dalam naskah tertulis “merubah” kita ubah menjadi “mengubah”. Tentu juga membenarkan yang salah ketik, misalnya, mau menulis “nabi” yang tertulis “napi”. Inilah editor kelas paling bawah.

Ruang 2, selain melakukan tugas ruang 1, editor juga melakukan rekonstruksi kalimat atau paragraf yang tidak logis, melompat, atau bahkan tidak menyambung. Membuat kalimat menjadi renyah dan enak dikunyah.

Ruang 3 selain melakukan ruang 1 dan 2, editor juga mengkritisi substansi, perspektif dan mungkin juga ideologi. Ini ruang terhebat dari seorang editor. Proses bisa menjadi lama, karena akan berulang kali melakukan komunikasi dengan penulis. Inilah level paling berat, karena editor bukan sekadar tukang, tetapi pemikir bahkan melampaui penulis.

Tetapi pada akhirnya, pesanan yang menentukan. Kalau kita hanya diminta untuk melakukan ruang 1, dan kita setuju, kenapa tidak? Bagaimana dengan Anda?

Sumber gambar: tempo.co

8 tanggapan untuk “Tentang Ruang Editor

  • 8 November 2012 pada 1:49 pm
    Permalink

    ehmmm

    membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mencerna, namun levelku maasih pada level 1, hehehehehe, bahkan belum kelar di level tersebut. namun, aku suka dnegan “pelevelan” ini. terkadang, seorang editor sangat menentukan nasib tulisan, dibaca untuk membuat perubahan atau hanya untuk koleksi perpustakaan, hehehehe. lebih parah lagi, justru melanggengkan penindasan…

    salam hangat

    Balas
    • 8 November 2012 pada 1:57 pm
      Permalink

      Kekekek, sekadar membantu sistematisasi pemikiran, siapa tahu bisa jadi bahan pelatihan minggu depan.

      Balas
      • 8 November 2012 pada 4:01 pm
        Permalink

        cukup menarik

        dan bagi saya, yang penulis asal-asalan, berada di level 1 saja belum cukup baik untuk saya, hehehehehe.

        siap… akan hadir

        Balas
        • 8 November 2012 pada 7:16 pm
          Permalink

          Sebetulnya, kategorisasi semacam itu tidak ada teorinya, tetapi berdasarkan pengalaman, seringkali seorang editor berada dalam belahan ruangan semacam itu.

          Balas
  • 8 November 2012 pada 5:17 pm
    Permalink

    aku ruang tidur sajalah, mengedit sambil tiduran haha.. piye bung bos, tulisan-tulisan kita?

    Balas
    • 8 November 2012 pada 7:19 pm
      Permalink

      Hati-hati, alat editnya bisa basah kuyup….
      Tulisan-tulisan ya memang begitu, namanya pengalaman dan apresiasi atas proses, tidak ada yang keliru. Karena itu, yang diperlukan editor melakukan pengolahan bahasa, setidaknya, agar tidak berlompatan dan terjun bebas.

      Balas
  • 8 November 2012 pada 5:39 pm
    Permalink

    Hi hi hi matur nuwun penjelasane yo mas…betul2 aku bertanya ke org yg tepat pagi tadi.

    Balas
    • 8 November 2012 pada 7:22 pm
      Permalink

      Diskusi dan dialog adalah makanan otak, bisa menyegarkan yang sudah lama terpendam atau mendapatkan pengetahuan baru karena pergesekan pengalaman lama dan pengetahuan baru. Sukses selalu…

      Balas

Tinggalkan Balasan ke indana Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.