Saya, Warung Kelontong dan Burung

image

Jalan kehidupan manusia memiliki terminal, tempat untuk beristirahat sejenak sebelum kemudian akan melanjutkan perjalanan kembali dalam garis lurus yang sebelumnya, atau justru berganti haluan dengan tumpangan yang berbeda tetapi dengan cita-cita yang tetap sama.

Saat ini, saya memasuki satu terminal dalam jalan kehidupan, dan memilih tumpangan utama yang tampak jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Sebenarnya bukan pilihan baru, tetapi sudah lama terpikirkan, meski terungkap dalam nuansa seloroh saja. Dan kini, seloroh itu benar-benar ada dalam genggaman. Saya memiliki sebuah warung kelontong, yang saya buka sepanjang hari.

Sepekan sudah saya merasakan bagaimana menjadi pemilik warung kelontong. Duduk dengan harap-harap cemas, menanti para pembeli. Ada kegelisahan yang membuncak, tetapi ada kesabaran yang tumbuh begitu subur dalam batin ini. Dan saya sungguh menikmati kesemuanya.

Maka, setelah tiga jam lebih menanti, sang pembeli pertama pun datang juga. Dengan senyum ramah, sebagaimana kebiasaan saya memfasilitasi sebuah pelatihan, saya menyambutnya. Pulsa, ya…, pembeli pertama saya membutuhkan pulsa. Ia membeli pulsa senilai lima ribu rupiah. Saya menanyakan nomor telepon genggamnya, ia tak menyebutkan, tetapi mengangsurkan telepon genggamnya itu. Saya menerima dengan hati bergemuruh. Ada kepedihan yang diam-diam menelusup dalam bingkai tumpangan kendaraan sebelum ini. Tetapi saya segera membisikkan nasehat terhadap diri saya sendiri, “kau sedang berada dalam kendaraan yang berbeda, maka nikmati saja.”

Saya membuka cover tablet, lalu mengetik kode pengiriman pulsa. Beragam pertanyaan bersembulan, bagaimana kalau tidak terkirim, bagaimana kalau lama prosesnya. Kekhawatiran itu sirna, sekitar satu menit menunggu, sebuah notifikasi masuk, transaksi berhasil. Sejak saat itu saya sudah merasa menjadi penguasa atas pilihan tumpangan baru saya.

Kini, sebuah kemasygulan muncul kembali. Di tengah-tengah saya melakukan editing naskah novelku yang kelima, saya merasa ada cita-cita dalam pilihan tumpangan baru ini yang belum lengkap, sebab  saya dulu ingin menunggu warung sambil memelihara burung ocehan atau anggungan. Dan saat ini saya belum bisa beli. Ada yang mau infaq membelikan saya burung?

2 tanggapan untuk “Saya, Warung Kelontong dan Burung

  • 21 September 2012 pada 11:39 pm
    Permalink

    ehmm

    tetep gayane kliwon, opo anane, lugas dan tetep nendang sana-sini

    jangan burung mas,… . karena dari apa yang panjenengnan selama ini perjuangkan dengan pembebasan, “memelihara” burung juga perlu dimaknai lagi, hehehe. meskipun bersangkar emas, dia tetap jadi obyek…

    salam

    Balas

Tinggalkan Balasan ke mukhotib md Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.