Perempuan-perempuan yang Berjuang

“Perempuan harus berperan dalam proses pembangunan di Aceh,” kata Rora berapi-api, saat berbicara dalam sebuah pelatihan community organizer yang diadakan oleh sebuah jaringan pengembangan radio komunitas di Sabang, awal Maret 2006 lalu. Semangat Rora, yang kini hanya tinggal bersama saudara kembarnya dan kakak perempuannya, juga diikuti oleh perempuan muda lain, seperti Elly, Nuhul, Duta, dan Maya. Kehadiran mereka sungguh menarik, dalam kegiatan ini, karena pandangan-pandangan segar mereka mengenai berbagai persoalan yang terjadi dalam penanganan rehabilitasi Aceh. Dengan begitu lugas, mereka mengkritik para pihak yang sangat lamban dalam menjalankan program-program pembangunan Acedh, dan seringkali terkesan hanya berorientasi proyek. Mereka mulai bergeser paradigmanya dalam memandang persoalan yang terjadi. Kalau pada mulanya, kelambanan pembangunan rumah, misalnya, lebih dipandang sebagai akibat dari kelambanan masyarakat dalam menyiapkan berbagai persyaratan administrasi, kini menurut mereka, itu bukanlah akar persoalannya.

Maya, misalnya, melihat, problem itu juga disebabkan oleh para aktor pelaksana pembangunan, yang di antaranya adalah BRR, lsm-lsm asing dan juga lsm lokal. Persoalan lainnya, lemahnya daya kontrol masyarakat dalam proses pembangunan perumahan itu sendiri. Terlibatnya perempuan dalam pengembangan informasi dan komunikasi, menurut Elly—sampai kini masih tinggal di barak pengngsian, merupakan tindakan strategis tidak saja untuk meningkatkan kontrol masyarakat secara umum, tetapi juga bisa untuk mengungkapkan berbagai problem perempuan secara spesifik yang dihadapi selama dalam pengungsian. “Saya sudah menawarkan gagasan tentang radio komunitas dalam pertemuan-pertemuan warga. Dan mereka sangat tertarik untuk mendirikan radio komunitas,” katanya.

Pilihan keterlibatan perempuan muda Aceh dalam pengembangan radio komunitas sangat luar biasa. Tidak saja karena sampai saat ini, peran perempuan dalam pengembangan radio komunitas masih sangat terbatas—tidak saja di Aceh, tetapi juga di hampir seluruh Indonesia—tetapi juga bisa diharapkan membuka ruang baru bagi perempuan Aceh untuk bisa terlibat dalam pengambilan kebijakan publik, terutama dalam level komunitas. Pasalnya, salah satu ciri utama radio komunitas adalah tingginya tingkat partisipasi komunitas yang harus diwujudkan dalam perencanaan dan pengelolaan radio komunitas. Setidaknya, Rora dan teman-temannya, para perempuan muda Aceh yang bersemangat, akan lahir sebagai penerus jejak para pejuang perempuan Aceh, yang sudah memiliki peran cukup berakar dalam catatan sejarah Aceh. Bedanya, mereka akan berjuang pemenuhan hak-hak perempuan, melalui penguatan informasi komunitas. Kenapa tidak?***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.