Ketika Aktivis NGO Berkesenian

“Kesenian akan bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan,” kata Butet Kertaradjasa, saat menyampaikan sambutannya dalam penutupan acara Workshop Mengembangkan Kreativitas Berbasis Seni, di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjam Jum’at (7/5). Workshop yang dilaksanakan tanggal 3-7 Mei 2010, diikuti oleh 25 peserta dari aktivis NGO di Yogyakarta.

Menurut Butet Kertaradjasa, Padepokan Seni Bagong diperuntukkan bagi masyarakat umum untuk mengekspresikan nilai seni yang dianut setiap orang. Melalui workshop ini, Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK), memberikan ruang seluas-luasnya bagi aktivis NGO untuk mengembangkan dan menciptakan nilai seni. “Kita membuktikan seni bukan hanya untuk seni,” kata Butet.

Butet yang juga dikenal sebagai Raja Monolog Indonesia, mengharapkan apa yang didapatkan dalam proses workshop bisa memiliki pengaruh dalam proses kerja keseharian para aktivis NGO di Yogyakarta.

Jeanny Park, selaku Direktur YBK mengatakan workshop sudah berakhir, tetapi sesungguhnya justru merupakan awal atau memulai sesuatu yang baru dalam kegiatan di masa depan. Apa yang diberikan dalam proses workshop hanyalah merupakan upaya untuk menumbuhkan semangat menciptakan nilai seni dalam diri manusia. “Kita akan terus membangun komunikasi,” katanya.

Ninik, salah satu peserta dari NGO yang bergerak dalam pembelaan hak-hak difabel, mengatakan proses workshop ini sangat menarik. Melahirkan keberanian dalam dirinya untuk mengekspresikan apa saja yang selama ini hanya menjadi impian. Ia mengaku selama ini dirinya ingin menari, menyanyi dan bergerak bebas, tetapi kondisi kakinya tidak memungkinkan itu semua. “Dalam workshop ini saya mampu melakukan semuanya,” katanya.[]

2 tanggapan untuk “Ketika Aktivis NGO Berkesenian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.