Selamat Jalan Bapak Bangsa

Sore itu, saya masih gayeng rapat di kantor Yayasan Pondok Rakyat (YPR). Maklum Darwis Khudhori, sang begawan arsitektural yang turut sejak awal mendirikan YPR datang ke Indonesia dari Perancis. Kegayengan itu, terhenti, Kang Slamet Riyadi, dari LP3Y, yang juga turut rapat, mendekat. Menunjukkan layar blackberry-nya. Lies Marcoes, melalui Facebook, mengabarkan Gus Dur sudah masuk ruang operasi selama 1 jam, 58 menit.

Tersontak rentak batin ini. Meski wadag masih memimpin rapat koordinasi di YPR, hati mengeja yang berbeda. Surat Alfatihah tiada henti.

Selesai rapat, saya menuju ke hotel Wisanti, menemui para relawan PKBI yang sedang berasik menghancurkan tatanan berpikir yang diskriminatif. Menggugat berbagai pemikiran yang melahirkan penindasan sesama.

Pesan pendek saya terima kembali. Kali ini membuat guncangan hati yang tak terkira. Suara menjadi parau. Gus Dur, meninggal dunia, pukul 18.45. PKBI merasa kehilangan, karena berrbagai inspirasi yang sedang dikembangkan tak jauh juga dari pemikiran Gus Dur.

Saya, memang bukan orang yang dikenal Gus Dur. Tidak juga oleh anaknya, Alisa, yang pernah menjadi relawan PKBI. Tetapi saya merasa begitu memilikinya, begitu dekat aura gagasannya.

Selamat Jalan Gus Dur.

Satu tanggapan untuk “Selamat Jalan Bapak Bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.