ARV Terlambat, Pejabat Tak Peduli

Teriakan banyak pihak mengenai keterlambatan penyediaan ARV bagi mereka yang positif HIV, tak juga jelas siapa yang bertanggung jawab. Persoalannya sungguh menyakitkan, petikemas yang berisi ARV impor itu, tertahan di bandara karena harus membayar administrasi dan uang sewa.

Banyak orang yang sudah memahami bagaimana cara mempertahankan kesehatan bagi mereka yang terinfeksi HIV, mengkonsumsi ARV seumur hidupnya. Tak boleh terlambat sama sekali. Apalagi departemen atau institusi yang memang memiliki TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi) berkaitan dengan penanggulangan HIV dan AIDS, tentu saja, para pejabatnya jauh lebih paham mengenai soal ini.

Tetapi, setelah bertemu intensif dengan delapan orang dari ratusan orang yang terinfeksi HIV di Yogyakarta, minggu ini, Kliwon benar-benar merasa marah. Bagaimana tidak, ARV yang mestinya tersedia itu terlambat adanya. Beberapa di antara mereka harus dikurangi jatahnya. Resikonya, bisa sia-sia kepatuhan minum obat yang selama ini dilakukannya, dan tentu saja dikhotbahkan oleh para aktivis penanggulangan HIV dan AIDS.

Kemarahan Kliwon sesungguhnya sangat sederhana, karena terjadinya keterlambatan itu sangat sepele dan tergolong memalukan. “Lho, ini sangat keterlaluan. Masa ARV yang akan menentukan kesehatan ribuan orang itu, tidak bisa diambil, karena ribut siapa yang akan membayar biaya sewa gudang di Bandara,” kata Kliwon berapi-api. Tetapi begitu, adatnya, kalau persoalan timbul karena sesuatu yang remeh temeh, dan mestinya tidak harus terjadi Kliwon memang cepat sekali naik darahnya.

Menurut Kliwon, yang namanya, penerimaan impor ARV di Bandara khan mestinya sudah kejadian rutin, bertahun-tahun. Jadi, mestinya tidak harus terjadi, dan tidak boleh terjadi sama sekali. “Kalau keterlambatan ARV itu karena negara kehabisan uang, setelah dikuras triliunan untuk Pemilu yang karut-marut itu, masih bisa dipahami,” katanya, sambil berjanji mau menulis surat terbuka untuk menteri kesehatan dan ketua umum Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN).

Tapi Kliwon terjengah, ketika mendengar celetukan teman di sebelahnya, “mana dibaca, sang menteri dan ketua umum KPAN yang juga menteri sedang sibuk ngitung perolehan suara partainya.”Alamak!!!

3 tanggapan untuk “ARV Terlambat, Pejabat Tak Peduli

  • 6 Mei 2009 pada 8:05 am
    Permalink

    seperti BBM aja di timbun nanti pas harganya lebih mahal baru akan bisa beredar lagi.

    Salahnya juga ga mengumpulkan massa untuk menggruduk itu gudang ARV, hehe…

    Balas
  • 1 Juni 2009 pada 11:42 am
    Permalink

    betul tuh pak, gimana kalo kita buat diskusi mengenai mekanisme pengadaan obat ARV?? tapi PKBI yang fasilitasin heheheh…..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.