Paradoks Nasab

Perempuan tak pernah diakui sebagai penurun nasab, laki-laki itu lah penurun nasab. Kecuali jika nasab itu begitu penting untuk sampai ke titik turun laki-laki yang berpengaruh, maka perempuan secara politis akan diakui sebagai penurun nasab.

Begitulah, perempuan. Ia akan hadir dan diakui sebagai penerus nasab manakala ayahnya dianggap penting untuk memelihara garis nasab itu sampai pada puncak kepentingannya.

Dan nasab itu pun kepentingan itu sendiri. Nasab bisa menjadi kepentingan mendongkrak citra. Bayangkan saja, jika Anda tiba-tiba terbukti sebagai keturunan Kanjeng Rosul dengan garis lurus tak terputus, betapa Anda akan menempati makom tinggi dalam masyarakat. Setiap siapa saja yang bertemu akan memanggil Gus–pengaruh tradisi Jawa Timur, atau dipanggil Wan–untuk tradisi Purworejo.

Hormat itu akan terus mengalir, dan bahkan tak akan dipercayai manakala Anda berbuat salah, dan bahkan ketika kesalahan itu Anda akui sendiri.

Lantas, jika Anda tak memiliki garis sampai ke Kanjeng Rosul, siapakah yang hendak Anda gunakan sebagai pendongkrak citra dalam konteks nasab?

Tak perlu pusing, Anda bisa saja menggunakan garis keturunan Majapahit atau garis keturunan Keraton Yogyakarta, Cirebon, Solo, Tanah Minang, dan mana saja asal itu menguntungkan dan mampu menderek suara-suara, dan penghormatan.

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *