Perempuan Itu (1)

Ia masih terus menari. Gerakan tangannya tampak gemulai. Hentakan kakinya menggetarkan setiap hati yang merindu.

Saya tak pernah benar-benar bisa melepaskannya. Setiap mengingatnya, ada getar yang seakan mengejar awan berarak hitam. Ada rasa sakit menghimpit, tetapi tetap saja merindunya.

Mungkin salahku, sebab tak hendak mengusirnya, justru memberi ruang hangat dalam gumpalan darah memerah dalam dada.

Perempuan itu memang teramat cerdik untuk sekadar membuat hanyut dalam alunan nada dari bibirnya. Perempuan itu terlalu cantik untuk sekadar memudarkan anggrek ungu di batang pohon kelapa.

Dulu, ketika ia ada di sisiku, memujinya seakan sebuah kehilangan. Tetapi ketika ia kini dalam pelukan laki-laki lain, mengingatnya menjadi kemesraan tak bertepi.

Ilustrasi: pixabay.com

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.