NYIA

Ah, Yogyakarta. Sedikit geli, meski tak sempat membuat senyum lebar, saat mendengar akronim New Yogyakarta International Airport menjadi NYIA.

saya tak tahu kenapa akronim itu menjadi menggelikan dalam konteks bahasa Indonesia. Sia-sia, ketika mendapat awalan me- dan akhiran -kan menjadi menyia-nyiakan.

Kalau saya menyempatkan diri untuk berpikir otak-atik gathuk dalam konteks kebiasaan Jawa, bisa jadi nama itu sangat mencerminkan proses pembangunan bandar udara itu.

Kenapa? Sebab, menurut cerita-cerita yang kudengar, dan membaca-baca informasi online yang berseliweran, masyarakat sebagiannya, merasa tersia-siakan. Mereka terintimidasi secara fisik dan ideologis.

Sementara Sultan Ngayogyakarta sebagai junjungan masyarakat Kulonprogo yang menjadi korban pembangunan itu, sudah terlanjur berposisi dalam deretan PT Angkasa Pura, sehingga tak lagi bisa diandalkan untuk mengayomi, melindungi rakyatnya.

Lantas kepada siapa rakyat akan mengadu, kepada NGO, kepada Komnas HAM, kepada Bupati Kulonprogo, kepada Pakualaman? Sudahlah, semakin dideretkan jawabannya, akan semakin membuat sakit hati. Sebab, semakin panjang juga semakin sedikit yang bisa diharapkan. Dari yang sedikit itu, antara lain, penggerak-penggerak kebudayaan di Kulonprogo. Para pejuang sosial dan mahasiswa dalam asuhan Menoreh, lain tidak.***

Sumber gambar: cnnindonesia.com

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *