Perencanaan, Ah, Perencanaan

Berorganisasi yang baik, salah satunya, memiliki kemampuan melakukan perencanaan program yang baik. Candaan bersama teman relawan PKBI DIY, kegiatan boleh saja sama, misalnya, pelatihan negosiasi kondom dalam pencegahan infeksi HIV. Pasti akan sama materinya, bagaimana memasang kondom dengan mulut, tak mungkin diganti cara pemasangan dengan hidung, demi sebuah perubahan. Pertanyaannya, lantas apa yang harus berbeda?

Perencanaan terbaik bagi para aktivis organisasi itu, kemampuan merumuskan perubahan yang diinginkan dalam siklus programatik, tahunan, tiga tahunan, lima tahunan dan seterusnya. Perubahan, sebagai mantra dalam perencanaan, sementara kegiatan hanya sebagai alat mencapai perubahan itu sendiri.

Sayangnya, banyak aktivis organisasi yang memfokuskan diri pada pencapaian kegiatan, seakan kegiatan menjadi tujuan akhir. Lihatlah, dalam dokumen perencanaan para aktivis itu masih menuliskan out put kegiatan dengan pernyataan adanya. Contoh, ketik mereka melakukan kegiatan pelatihan, out put kegiatannya, adanya pelatihan, terlaksananya pelatihan. Pernyataan ini menunjukkan mereka menempatkan pelatihan sebagai tujuan, bukan sebagai cara mencapai perubahan.

Yang sebaiknya, pernyataan out put atau hasil itu, menjawab pertanyaan apa yang kita harapkan terjadi ketika sebuah pelatihan atau sebuah kegiatan dilakukan. Apa yang terjadi ini harus mengarah pada keinginan perubahan yang akan dicapai.

Mari kita melakukan perubahan, karena yang tidak akan pernah berubah adalah perubahan itu sendiri.***

Gambar: https://thumbs.dreamstime.com

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.