Gembira Berorganisasi

Sebagian orang merasa berorganisasi hanya akan melelahkan dan bahkan membuang-buang biaya saja. Tetapi sebagian lain mengatakan berorganisasi sungguh sangat menggembirakan. Lalu, mana pandangan yang benar?

Tak ada yang keliru dari dua pandangan yang berbeda itu, tentang berorganisasi yang melelahkan dan menggembirakan. Saya tak akan membicarakan mengenai berorganisasi yang melelahkan, sebab memang tak memiliki pengalaman berorganisasi yang seperti itu, Biarlah pembaca yang mungkin saja bisa menuliskan pengalamannya.

Saya selalu merasa bergembira dalam berorganisasi. Hari ini, misalnya, saya sangat senang dan sungguh bergembira berada di tengah-tengah para relawan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sedang memiliki helat Rapat Pleno Daerah (RPD). Sebuah forum yang diikuti para relawan dari seluruh PKBI Cabang di Kabupaten/Kota di Yogyakarta.

Sebagai salah satu relawan dari Perkumpulan yang tahun ini genap berusia 60 tahun, sungguh saya sangat bergembira bisa turut bergabung dan beraktivitas dalam organisasi ini yang memiliki organisasi pada level provinsi hampir di seluruh negeri ini.

Bagaimana tidak, organisasi ini sudah melampaui rejim di negeri ini sejak kekuasaan Ir. Soekarno dengan seluruh semangat revolusioner dalam mengobarkan semangat kemerdekaan. Lalu melewati kekuasaan presiden selanjutnya, sampai pada kekuasaan Joko Widodo, yang akrab dipanggil dengan Jokowi.

Bersama PKBI, saya sungguh merasa tertantang tak saja gairah pemikiran dan intelektual dalam merespons dinamika mengenai gagasan, konsep mengenai seksualitas. Tidak saja soal teori yang begitu cepat berubah, tetapi juga berhadapan dengan pandangan-pandangan normatif keagamaan dan kebudayaan.

Sebut, misalnya LGBT, gerak publik yang di negeri ini hampir semuanya sama sekali tak menyetujui bahkan sebagiannya menyerang dengan kebencian dan tindak kekerasan, Bahkan sebagian pemegang kekuasaan di negeri turut pula membenci dan menyerang, meski sebagai pemegang kekuasaan negara apapun agamanya, tak boleh turut membenci warga negaranya berdasarkan pada orientasi seksualnya.

Begitu juga entitas sosial lain yang terus mengalami stigma dan diskriminasi, seperti pekerja seks dan juga remaja jalananan.

Pertanyaan kepada diriku sendiri, seberapa jauh dan seberapa lama saya bisa terus bersama Perkumpulan, dalam gelombang negeri ini yang masih kental dengan berbagai ragam tindak kekerasan, stigma dan diskriminasi berbasis agama, orientasi seksual dan juga berbasis tubuh.***

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *