Ketika Berakhir

Terik mulai memadati di halaman masjid dusun Bluwangan. Kliwon tampak mengeringkan keringat dengan remasan tissue yang tak lagi berwarna putih.

Tetua desa sedang meminta kesaksian tentang status mayit, baik atau buruk.

Pertanyaan itu diulang tiga kali, dan semua pertanyaan dijawab dengan suara serempak, “baik.”

Benarkah semua menyatakan kesaksian dengan sungguh-sungguh seperti kata hati, atau mau apalagi semua sudah berakhir, dan semua berharap kebaikan akan menyertai si jenazah.

Setelah kesaksian, enam orang maju ke depan. Menaikkan keranda ke pundak-pundak kukuh berotot.

Meski sudah dilarang, untuk tak ada acara tlusupan, tetap saja, istri dan anak-anak jenazah melakukannya. Tentu dengan cara mencuri kesempatan saat jenazah mulai berada di atas pundak, dan sebelum para pemanggul melangkah dengan cepat. Karena begitulah sunnahnya.

Tetapi begitulah ketika semua sudah berakhir dan akan memasuki masa penantian lama tanpa batas di alam barzah. Banyak kisah dikembangkan, tentang kehidupan jenazah, dari yang ringan sampai yang berat-berat dan tak masuk akal.

Dan semua kisah itu menjadi konsumsi yang hidup, termasuk membangun rasa was-was di hati ahli waris.

Bagi jenazah, tak ada lagi harapan, dan konon akan segera menerima pitakonan, pada saat para pengantar jenazah paling akhir meninggalkan pemakaman.

Ketika semua sudah berakhir, kisah tentang jenazah, ketika ada lagi makna apapun tentang kehidupan. Apakah kita masih layak melakukan korupsi, manipulasi, dan nikmat menerima suap?

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.