Terus Membangun Toleransi

Menghadapi ancaman terhadap keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia, kali ini bukanlah menjadi soal yang mudah.

Pasalnya, kelompok intoleran mulai menarik perhatian orang-orang, bahkan yang berlatar belakang pendidikan pesantren.

Padahal selama ini, santri-santri dari pesantren itu menunjukkan ketahanannya dalam berlaku toleran, menghargai sesama, dan tak mudah menghalangi.

Grup WA yang dibuat alumni pesantren tempat saya menjadi cantrik dulu, akhirnya tak bertahan, pecah menjadi 3 kelompok;

Pertama, kelompok yang tetap bertahan di grup WA awal. Mereka yang selama ini menunjukkan pikiran terbuka, menghindari berbagai wacana yang mengandungnya ketidaksukaan. Saya ada di grup ini sampai sekarang.

Kedua, kelompok yang memilih jalan pikiran yang disebarkan berbagai media mengenai gerakan khilafah, mengikuti kegiatan yang dipelopori FPI, dan akhirnya memusuhi teman sendiri di dalam wacana di grup.

Ketiga, kelompok yang akhirnya, dengan pertimbangan rasa pertemanan yang tinggi, mereka menjadi anggota di dua grup, grup asal dan grup baru yang dibuat teman-teman kelompok kedua.

Ini peristiwa kecil, tetapi ia menceritakan fenomena besar yang sedang terjadi di negeri ini.***

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak

Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri.

Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *