Kambing

Ketika kecil, Kliwon diajak bersilaturahmi ke rumah Pak Dhe, kakak dari emaknya. Girang alang kepalang. Sebab, saat pulangnya ia diberi uthuk–anak ayam untuk dipelihara sebagai bibit–berbulu warna kecoklatan.

Begitu sayangnya uthuk itu selalu ia mandikan secara rutin tiga kali sehari. Tidurnya pun tak di kandang ayam, tetapi dalam kurungan di ruang tamu.

Bukan sekali dua kali Kliwon mendapat omelan Emaknya. Pasalnya sangat jelas, kotoran ayam itu tetap meninggalkan aroma tak sedap di ruang tamu. Meski sudah sekuat tenaga Kliwon membersihkan kotoran itu.

Masa bertelur pun tiba. Ada dua belas telur di sarang ayam Kliwon. Setiap hari Kliwon selalu menyempatkan waktu menunggu ayamnya yang diberi nama ‘xxxdddyy’.

Kliwon girangnya bukan main, saat telur-telur itu menetas. Anak ayam dengan warna berbeda-beda, 12 ekor jumlahnya. Tak ada telur yang tak menetas.

Anak-anak ayam itu pun besarlah, dan siap menelur. Bapak Kliwon memiliki pertimbangan berbeda. Ia menjual ayam-ayam itu, dan membeli cempe, sebagai gantinya, anak kambing jantan berwarna hitam di sebagian tubuhnya, dan bulu-bulu putih melingkar di atas mata kaki di empat kakinya.

Pekerjaan Kliwon bertambah, tak hanya memberi makan xxddyyy, kini ia hari mencari rumput untuk kambing barunya yang diberi nama dddyyxxx.

Itu kambing dari bibit yang baik. Ia cepat tumbuh besar, menjadi kambing jantan dengan tampilan gagah dan kuat. Kini Kliwon tak kuat lagi memegang tali ketika dddxxyyy tak mau berhenti berjalan.

Saat hari raya kurban tiba, Kliwon menangis, tak henti-henti. Pasalnya, dddxxyyy hendak dipotong sebagai kurban untuk neneknya yang telah tiada. Ia mogok, tak mau salat hari raya.***

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak

Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri.

Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *