Memahami Kembali PAUD

Mayoritas PAUD belum terakreditasi.

Toh, cuma tempat bermain anak doang.

(Pojok Kompas, Edisi 23 November 2015)

 

Pojok, merupakan salah satu rubrik yang cukup menarik di Harian Umum KOMPAS. Isinya mengandung kritik-kritik terhadap sebuah fenomena sosial, biasanya informasi itu sudah ditayang pada edisi sebelumnya.

Penyampaian kritik dilakukan dengan tajam, tetapi menggunakan bahasa satire dan menggelikan. Secara simbolis, Tak jarang kita dibuat tersenyum-senyum saat membaca rubrik Pojok yang disimboli penulisnya sebagai Mang Usil.

Sebagai ruang kritik, rubrik Pojok mau tak mau bisa dikatakan cara pandang resmi redaksi terhadap fenomena yang dikritiknya. Pojok dengan begitu tak ubahnya seperti rubrik Tajuk. Bedanya, Tajuk disajikan dengan panjang disertai argumentasi, sementara Pojok hanya terdiri dari dua baris, baris pertama fenomena sosial yang hendak direspons, dan baris kedua sikap redaksi terhadap fenomena sosial itu.

Dengan pemahaman posisi rubrik Pojok seperti ini, kita menjadi sedikit mengernyitkan kening, dan tak merasa geli manakala membaca rubrik Pojok KOMPAS pada edisi 23 November 2015, seperti yang dikutipkan pada bagian awal tulisan ini.

KOMPAS melihat, lembaga PAUD hanyalah tempat bermain semata-mata, tak lebih dan tak kurang. Bahkan, untuk menempatkan posisi itu benar-benar hanya ruang bermain anak, KOMPAS menggunakan dua diksi yang maknanya sama, tak menganggap eksistensi PAUP sebagai lembaga pendidikan; ‘cuma’  dan “doang”.

Pertanyaannya, benarkah memang PAUD semata-mata tempat bermain seperti dalam pandangan KOMPAS dalam rubrik Pojok? PAUD, secara normatif dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dicantumkan dalam Bab Ketujuh yang mengatur Pendidikan Anak Usia Dini, Pasal 28, Ayat (1) disebutkan ‘Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar’.

Sedangkan dalam PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 137 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI.Pendidikan Anak Usia Dini adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rancangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.