Metakognisi

Ibu dan ayah mungkin pernah mendapati anaknya yang menjelang masuk Sekolah Dasar (SD) saat makan bersama, mengatakan, “Bu, saya pikir, saya bisa masuk SD favorit. Tetapi apa benar pikiran saya itu, ya?”

Kalau ibu dan ayah mendapati anaknya berkata begitu, dalam tumbuh kembang anak ia sedang berpikir mengenai pemikirannya sendiri. Ia menguji kebenaran pikirannya dengan memikirkan kembali apa yang dipikirkannya. Inilah yang disebut dengan metakognisi dalam proses tumbuh kembang anak.

Ibu dan ayah tak perlu khawatir, sebab situasi itu tidak sedang menunjukkan anak sebagai peragu atau tidak yakin terhadap pikirannya sendiri. Anak itu sesungguhnya memiliki potensi berpikir yang sangat bagus. Metakognisi sangat dipengaruhi kecerdasan seorang anak. Semakin tinggi kecerdasannya, akan semakin besar poptensi metakognisinya.

Dalam perkembangannya kelak, anak dengan metakognisi yang terus tumbuh akan memnjadikan sebagai seorang pemikir yang kritis. Ia akan bisa menjadi seseorang yang selalu mempertanyakan setiap fenomena alam dan sosial yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak saja akan tumbuh mandiri, lebih dari itu ia akan menjadi anak yang kreatif dan penuh dengan imajinasi dan berkarakter inovatif. Sebuah prasyarat yang sangaat dibutuhkan dalam kehidupan masa depan anak. Ia akan memiliki kemampuan berpikir di atas rata-rata orang kebanyakan.

Ibu dan ayah bisa merangsang perkembangan metakognisi pada anak sejak usia dini. Caranya, melalui pengasuhan yang benar dan tepat. Sejak dini anak mulai dibiasakan mempertanyakan tindakan-tindakannya, mengajaknya mempertanyakan kembali apa yang dipikirkannya. Misalnya, saat anak berpendapat mengenai mainannya yang cepat rusak dengan mengatakan karena harganya murah, ajaklah anak memikirkan cara perawatan sebuah mainan, apakah selalu disimpan di tempat yang disediakan, apakah pernah terjatuh, terinjak atau bahkan pernah dilempar begitu saja.***

Sumber: Tabloid PAUD Edisi Maret 2017 versi cetak

Foto: KOMPAS

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *