Menghargai yang Beda

Sekali waktu, pernah seorang teman bertanya dengan sedikit tampak masgul, “bagaimana sebuah batas menghargai perbedaan harus diciptakan?”

Saya menatap sekali lagi lurus ke matanya. Tak tahu pasti apa yang sedang kucari di balik bola matanya. Yang kutahu pasti, saya meragukan temanku mengajukan pertanyaan itu.

Pasalnya, saya tahu persis ia seorang muda yang selama kenal begitu keras meneriakkan toleransi, pluralisme dan juga multikulturalisme. Kenapa ia tiba-tiba begitu masgul dan mempertanyakan soal batas perhargaan atas perbedaan?

Saya sama sekali tak heran mengenai sebuah perubahan dalam diri seseorang. Sebab perubahan merupakan takdir dalam kehidupan. Sebuah keniscayaan yang tak bisa siapapun menghindarinya.

Banyak faktor bisa memengaruhi pemikiran dan yang pada akhirnya memengaruhi tindakan. Salah satu yang terpenting, pengetahuan dan informasi baru yang diterima seseorang.

Pengakuan atas keragaman dan perbedaan saat ini sedang menghadapi tantangan yang begitu keras. Banjir informasi yang menggoyang jauh lebih lantang ketimbang yang mencoba mempromosikannya.

Banyak pihak, entah mereka sadar atau sama sekali tak sadar, mendukung dan bahkan turut serta dalam upaya menjadikan masyarakat berpikir hitam putih: aku dan kamu, tak ada kita. Semuanya serba berhadapan, tak ada wilayah ketiga yang bisa mempertemukan ragam kelompok dan ragam kepentingan.

Lebih celaka lagi, kerangka berpikir hitam putih ini, memilih jalan yang lebih kasar, saling menjatuhkan, saling membunuh, dengan berlindung dalam kerudung doktrin agama, dan membangun permusuhan paling primitif di dunia ini: membedakan latar suku, membedakan pribumi dan non pribumi. Sebuah situasi psikologis yang pernah memorakporandakan bangsa ini dalam kerusuhan beberapa tahun lalu.

Manifestasi dari semua wacana ini: fenomena pemilihan Gubernur DKI.

Dan saya hanya menjawab pertanyaan temanku itu, lihat dan renungkan fenomena itu.

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *