Persembahan

Ketika malam mulai merangkak tinggi, jalanan di pedalaman Arso mulai teramat sepi. Oliga Mawarune, seorang Ondoafi yang sudah makin melemah fisiknya, berusaha keras menahan kantuk.

Kelopak mata yang keriput itu seakan dibebani dengan ribuan kubik kayu besi, berkedip-kedip di antara suara-suara nyamuk yang tak pernah berdamai. Mendengung-dengung, dan menghilang sesaat, untuk menghisap darah yang tinggal sedikit tersisa dalam tubuh Oliga.

Kesedihan merayapinya. Cucu perempuannya yang berumur 7 tahun, masih terus menangis, memanggil mama dan bapaknya yang belum pulang juga hingga menjelang tengah malam. Ingin ia mengatakan sejujurnya kepada bocah kecil itu, tak usah lagi ditunggu kedua orangtuanya. Darahnya telah tertumpah, membasahi akar-akar pohon hutan sekitar 12 kilometer arah tenggara perkampungan. Tak ada kesalahan yang mereka lakukan, ketika tiba-tiba terdengar suara menggema, “pengkhianat, pengkhianat…”, “tembak saja, habisi nyawanya …”, “beri pelajaran, biar tahu mereka, betapa kuatnya NKRI.”

Hanya itu saja yang diketahui Oliga tentang anak perempuannya yang sangat dikasihi dan menantu laki-lakinya. Selebihnya, tak lagi ia bisa mendapatkan cerita, dan memang tak perlu untuk mengusut apa kesalahan anaknya sehingga harus menemui kematian pada waktu yang lebih awal dari yang mungkin dijanjikan para leluhur mereka.

Oliga merasa yakin benar, tidak akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan cucunya, ketika ia harus bercerita soal kematian itu. Tetapi harus ditemukan cara untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi. Ia tak ingin dirinya masuk dalam suasana yang harus berdusta kepada cucu yang sangat disayanginya itu.

“Cobalah lihat wajah Kakek,” katanya, ketika isak tangis cucunya tak juga mereda. Tangisan bocah perempuan kecil yang telah kehilangan ruang tempat berteduh dan mengadu, seperti  anak yang mainannya direbut teman sebayanya. Tempat mendapatkan kehangatan, ketika kantuk menyerang, bersamaan dengan gelap yang terus memekat. Oliga merasa bergembira, ketika kepala yang sejak senja tadi menunduk, perlahan bergerak mendongak ke arah wajahnya.

“Kau anak perempuan yang pintar. Cahaya matamu menunjukkan kekuatan itu.”

Anak perempuan itu tetap terdiam, mungkin sedang mencoba memahami arah kata-kata kakeknya yang tiba-tiba begitu terdengar tenang dan dalam.

“Saya ingin ketemu mama,” kata bocah itu, tak mengetahui gemuruh dalam dada kakeknya. Tentu saja si kakek mengerti benar apa yang menjadi keinginan cucunya itu. Tetapi keinginannya tidak akan pernah terpenuhi, meskipun tangis itu tak akan pernah berhenti, siang menjelang malam, malam menjelang siang.

“Setiap anak pasti merindukan orangtua mereka. Tetapi setiap anak kelak akan sendiri dan harus melepaskan dirinya dari bayang-bayang orangtuanya.”

“Setiap yang hidup akan menjalani kematian, masuk dalam keabadian dan berbahagia bersama para leluhur yang akan terus menuntun di jalan keabadian itu.”

“Kakek juga akan mati?” Pertanyaan itu menghenyakkannya. Meski selalu berbicara kematian sebagai sebuah kewajaran, tetapi laki-laki tua itu, tidak pernah terpikirkan tentang kematian untuk dirinya sendiri. Nafasnya agak sedikit tersengal, dan batuk susul menyusul untuk beberapa saat lamanya.

“Ya, Kakek juga akan mati, kamu juga akan mati,” jawabnya dengan suara yang terdengar parau, setelah batuknya mereda.

“Kalau saya kan masih kecil, Kek.”

“Kematian tidak memandang pada usia, seseorang memiliki garis ketentuannya sendiri-sendiri. Bisa saja kematian datang ketika ia masih bayi, bisa saja ia datang ketika seseorang sudah tua renta seperti Kakek.”

“Siapa yang menentukan kematian?”

“Sesembahan kita, Chaimbo, yang mengatur seluruh kehidupan kita, yang menghamparkan langit di angkasa, menumbuhkan pohon-pohon, yang membesarkan hewan-hewan, dan menciptakan udara untuk kita bernafas.

Ia lah yang menjelma menjadi air, hutan dan gunung-gunung. Memberikan kesejahteraan dan kesalamatan bagi semua warga di Kampung.

Jika Chaimbo sudah menginginkan kematian, Ia akan mengutus Yonggoway untuk mencabut nyawa dan tanpa bisa ditawar lagi. Maka kematian yang begitu cepat menjemput tak perlu disesalkan, atau kehidupan yang lebih panjang tak perlu juga disombongkan.”

“Mama dan Bapak juga akan mati?”

“Ya, dan kita tidak pernah tahu kapan mereka akan mati, seperti Kakek juga tidak pernah tahu kapan akan mati.”

Kematian harus kita sambut dengan suka cita, karena yang mati sudah akan meninggalkan penderitaan dan akan menyambut kebahagiaan abadi.

Kedukaan dan air mata hanya akan membuat mereka yang mati bersedih dan turut pula menangis.”

“Katanya, mereka bahagia abadi?”

Bocah perempuan itu mengajukan pertanyaan lagi. Kakeknya menjelaskan dengan perlahan, “ya, karena roh mereka tetap melingkupi kita, hidup bersama kita. Para roh mengetahui kedukaan kita, dan mereka turut berduka. Para roh mengerti kebahagiaan kita, dan mereka akan bersuka cita melihatnya. Cucuku, apakah kamu akan bersedih jika Mama dan Bapakmu kelak mati?”

“Saya akan membuat mereka gembira, dan karenanya saya akan bergembira.”

“Bagus, cucuku. Jika Mama dan Bapakmu sampai tiga hari ini tak juga kembali, mungkin saja mereka sudah mati.”

“Dan mereka akan terus melihat saya dan berbahagia jika melihat saya berbahagia?”

“Benar, maka sekarang berilah Kakek senyummu, agar Mama dan Bapakmu juga melihatnya dan mereka tersenyum bahagia. Mereka ada di sekitar kita dan akan selalu menjaga dirimu, seperti Kakek akan menjagamu, sebelum Kakek nanti juga akan mati.”

Bocah perempuan kecil itu memandang wajah kakeknya, seulas senyum mengembang begitu amat manisnya. Oliga merengkuh tubuh cucunya. Terbayang melintas cepat wajah-wajah yang sama manisnya dengan cucunya, wajah istrinya yang tersenyum, wajah anak perempuannya yang juga tersenyum. Air mata mengalir perlahan, meski bibirnya tetap menjaga senyum. Dipandangnya wajah cucunya sekali lagi, matanya sudah terpejam, nafasnya mengalir begitu teratur, dan senyum tetap mengembang di bibirnya yang mungil.

Tiga hari setelah malam itu, Oliga mengajak cucunya ke tengah hutan, membawa satu mangkok darah babi, merah segar. Tepat di bawah pohon tua, kira-kira sebesar dua kerbau, mereka berhenti dan duduk bersimpuh. Warga kampung mengikuti Kepala Suku mereka untuk memberikan persembahan kepada leluhur. Tangan mungil bocah kecil itu menumpahkan darah merah segar di akar-akar pohon, mengalir perlahan mengikuti akar-akar yang kokoh berlekuk masuk ke bumi.

“Saya tersenyum agar Mama dan Bapak berbahagia dan selalu menjaga saya dan Kakek,” ucapnya.

“Lihatlah anak perempuanku, cucuku tersenyum, menyegarkan pohon-pohon yang kering, daun-daun sagu yang melengkung, menggemburkan tanah-tanah kering, dan mewangikan bunga-bunga,” katanya menyambung.

“Maka berbahagialah kalian bersama para leluhur, tetap jagalah anakmu, sehingga ia akan terbebas dari segala kejahatan yang keji, dari segala keculasan manusiawi, dari rasa dengki dan iri hati,” lanjutnya.

Angin berhembus sepoi dan semakin lama mengencang. Daun-daun kering luruh, melayang-layang dan jatuh ke tanah tanpa suara. Warga kampung semuanya diam, wajah khusuk dan sebagiannya wajah menegang. Mereka mengerti, roh anak dan menantu Kepala Suku sedang menuju ke pohon itu, memohon agar sesembahan mereka bisa menerima kahadiran dirinya. Menyadari situasi yang ditunggu telah tiba, Kepala Suku bergetar tubuhnya, inilah saat terpenting dan paling bermakna bagi sang roh untuk mendapatkan bantuan dari yang hidup, agar roh mereka bisa diterima di alam setelah kehidupan fana ini.

Oliga memimpin pemujaan dan mengucapkan doa-doa untuk arwah para leluhur, meminta keselamatan dari mara bahaya di kampung mereka, menjauhkan duka kepada warganya. Tarian pemujaan terus berjalan, tifa-tifa ditabuh, tombak-tombak yang mengacung menusuk langit. Mantra-mantra dilafalkan, lagu-lagu dinyanyikan.

Upacara pelepasan roh telah selesai dilakukan, warga bubar meninggalkan tempat pemujaan, sebagiannya ke hutan, dan sebagiannya lagi kembali ke rumah mereka. Oliga Mawarune, Kepala Suku yang sudah merenta, menuntun tangan mungil cucunya, melangkah pelan dan tertatih, menuju ke arah timur perkampungan.

Foto: ecodivo2013.blogspot.com

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak

Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri.

Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *