Ngeblog: Tak Lagi Sekadar Catatan Pribadi

Dulu, ketika saya mulai menjadi seorang blogger, pada tahun 2004, saya hanya berpikir memanfaatkan blog sebagai cara menuliskan catatan-catatan pribadi agar menjadi awet. Sambil beriseng agar tulisan bisa dibaca orang, dan itu berarti memberikan manfaat bagi orang lain.

Maka, ketika saya mendapati komentar atas tulisan yang saya tayang, ada rasa bangga, sebab tulisan saya benar-benar ada pembacanya. Sejak saat itu, saya terus asyik sendiri menulis di blog yang saya kembangkan. Tetapi saya mulai memikirkan makna lebih dari manfaat sebuah blog, bagi publik dan bagi diri saya sendiri.

Lantas saya mulai memasuki gaya baru ngeblog tidak lagi menggunakan platform gratis, tetapi membeli domain dan hosting. Saya merasakan benar, ketika itu blog menjadi identitas pribadi, seakan mewakili pikiran-pikiran saya dihadapan pembaca. Saya terus berkembang, teknologi informasi terus berkembang.

Saya mulai berpikir blog bisa juga dimanfaatkan sebagai alat memengaruhi pembaca dalam persoalan-persoalan yang sedang berkembang. Saya mulai menayangkan tulisan-tulisan yang bersifat reaktif terhadap kasus tertentu, dengan harapan pembaca mengetahui sikap saya terhadap persoalan yang sedang berkembang. Selain saya tetap menayangkan tulisan-tulisan santai tetapi memiliki makna mendalam, seperti refleksi terhadap kehidupan. Saya juga tetap menuliskan laporan-laporan dalam setiap perjalanan ke suatu daerah yang saya kunjungi.

Dalam perkembangan teknologi informasi yang makin luar biasa, dan lima tahun terakhir ini seakan-akan menjadi tumbuhnya suburnya penyebaran pengetahuan dan informasi, ngeblog tak lagi sekadar yang saya bayangkan pada 12 tahun yang lalu, dan tahun-tahun setelahnya. Dalam pengalaman saya, ngeblog sudah menjadi alat menyampaikan agitasi agar pembaca mau melakukan apa yang saya inginkan saat saya menayangkan tulisan-tulisan di blog.

Tentu hal-hal positif yang saya ingin, misalnya, agar laki-laki tak lagi melakukan kekerasan terhadap istrinya, berlaku hati dalam melakukan tindakan seksual sehingga tidak menulari atau tertulari virus HIV, tidak melakukan tindakan seks penetrasi pada saat masa pacaran agar tidak mengalami kehamilan tidak diinginkan.

Pada saat saya mendaftar sebagai Kompasianer di akhir tahun 2011, saya mendapatkan hal baru dalam tardisi saya ngeblog. Kalau sebelumnya, saya menayangkan tulisan dengan berharap dibaca publik tetapi dengan tetap tidak peduli apakah benar-benar dibaca orang atau tidak, saat menjadi Kompasianer saya merasakan menulis dengan orientasi agar dibaca banyak orang. Bahkan saya rela mengalahkan blog pribadi saya untuk menayangkan tulisan setelah tulisan itu tertayang di kompasiana.

Dengan begitu, melalui blog, saya bisa menunjukkan siapa dan apa kapasitas saya, dan keahlian apa yang saya kuasai sehingga memungkinkan pembaca menggunakan jasa saya. Dan itu benar adanya.

Sebagai fasilitator pendidikan populer, saya mulai menerima permintaan jasa pelatihan, yang sumbernya karena mengetahui tulisan dan membaca profil yang tertayang dalam halaman profil.

Inilah, yang menurut saya, saat ini blog bukan semata-mata sebagai tempat pendokumentasian tulisan agar menjadi lebih awet, melainkan berubah menjadi kekuatan sosial baru dalam bidang informasi. Ia tak saja menayangkan peristiwa-peristiwa, menayangkan gagasan-gagasan, melainkan juga menjadi media memengaruhi pembacanya.

Bahkan pada titik tertentu, melalui penyangan iklan, blog bisa menghasilkan uang, dan sebagiannya memang memanfaatkan sebagai situs jual beli. Dan karenanya blog kemudian mendapatkan julukan sebagai mesin uang baru bagi para blogger. Beyond Blogging, lebih sekadar ngeblog, kira-kira begitu yang bisa saya pahami mengenai tradisi ngeblog saat ini. Kelahiran gaya baru dalam orang memanfaatkan blog dalam kehidupannya.

Para blogger bisa memanfaatkan blog untuk apa saja, sesuai dengan keinginan dirinya sendiri. Keterbukaan informasi membuka ruang seluas-luasnya bagi para blogger dalam mengekspresikan dirinya. Tetapi, nikmatnya keterbukaan informasi, ternyata sering kali tak dibarengi dengan stamina dan produktivitas menulis.

Akibatnya, saya banyak mendapatkan blog yang isinya hanya hasil copy-paste dari blog lain, dan kadang-kadang tanpa menyebutkan sumbernya. Semua dilakukan agar blog selalu bisa menayangkan tulisan baru, tapi pada saat yang sama produktivitas sedang stagnan.

Tradisi mencuri atau setidaknya tidak jujur terhadap karya orang lain, mulai menjadi tradisi baru dalam dunia blogger. Pada saat yang sama, tak sedikit orang menyebarkan berita-berita bohong, yang pada akhir-akhir ini begitu menguat dan menggelembunglah istilah ‘hoax’. Sesuatu yang sama sekali tak terpikirkan akan terjadi dalam dunia blogger pada saat saya memulai menjadi seorang blogger.

Celakanya, penyebaran berita bohong terus juga menggelembung karena sebagiannya justru menjadi bisnis baru dalam pemanfaatan blog. Perkembangan aplikasi-aplikasi atau layanan komunikasi yang bersifat peer to peer, memudahkan penyebaran berita-berita bohong, yang tentu saja beraroma kontroversial, terutama saat dikaitkan dengan kepentingan politik pragmatis.

Tentu bukan seperti ini yang dimaksudkan dengan beyond blogging dalam pandangan saya. Lebih dari sekadar ngeblog seharusnya diartikan adanya nilai lebih dari ngeblog pada maknanya yang positif. Pada konteks ini, ngeblog harus disertai dengan tanggung jawab sosial yang lebih tinggi, dengan tidak menulis hal-hal bohong, tidak mencuri karya orang lain, dan tentu saja memiliki kesadaran kritis sehingga tulisan-tulisan itu mampu mentransformasikan kesadaran baru masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang dalam kehidupan keseharian.

Hanya saja, menghasilkan karya-karya yang mencerdaskan melalui blog bukan perkara yang remeh temeh. Sebab blogger harus benar-benar memiliki daya kreatif yang kuat dan memiliki stamina menghasilkan karya yang inovatif dan menawarkan nilai-nilai yang bermakna bagi kehidupan.

Ini bukan hanya soal sebuah tulisan dengan penggarapan bahasa yang baik dan penyajian materi yang runtut. Melainkan soal substansi tulisan yang menebarkan pesona penghargaan terhadap hak-hak orang lain, menghargai adanya perbedaan, dan tak memanfaatkan blog sebagai alat hasutan, menebar fitnah, dan membangun kebencian.

Jika seorang blogger sudah berada dalam posisi kesadaran seperti inilah, ia telah menjadi seorang bloger sejati, dan benar-benar memasuki ranah baru dunia ngeblog, beyong blogging tak lagi sekadar menghubungkan orang-orang dan membagikan pengetahuan dan informasi kepada orang lain.

Kini, Anda sendiri yang akan bisa menentukan pilihan, beyond blogging dalam konteks penyebaran nilai-nilai positif yang mendorong pembaca melakukan tindak-tindakan perubahan yang lebih baik atau makna yang sebaliknya, penyebaran nilai-nilai negatif, memanfaatkan isu-isu sensitif sehingga mendorong orang melakukan penghancuran pluralisme dan multikulturalisme di negeri ini. Silakan memilih dengan kedewasaan masing-masing.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mmdnews/ngeblog-tak-lagi-sekadar-catatan-pribadi_587bb871b79373a81f42cfee

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.