Bagaimana Melawan HOAX?

Mudahnya akses internet dan media sosial, selain memberikan kemudahan mendapatkan dan berbagai pengetahuan dan informasi, sebagian orang memanfaatkannya sebagai cara menyebarkan informasi bohong atau yang saat ini akrab disebut hoax.

Sebagaian kalangan menilai hoax sudah menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan masyarakat, mudahnya menyulut kebencian, dan bahkan dinilai sudah mampu mengganggu keutuhan bangsa, dan merusak sendi-sendi kerekatan masyarakat. Termasuk tentu saja, mengganggu nalar kebhinekaan yang merupakan simpul penting bagi Indonesia.

Menghadapi situasi ini, pemerintah sudah melakukan berbagai tindakan, tidak saja melakukan pemblokiran situs-situs yang dinilai menebarkan kebohongan dan membangkitkan kebencian.

Pada saat yang sama, masyarakat sipil juga melakukan perlawanan serius terhadap menguatnya pelaku penyebaran berita bohong ini. Bahkan NU merasa penting untuk membariskan warganya melakukan perlawanan balik terhadap hoax ini.

Tindakan pemerintah dan masyarakat sipil ini tentu saja patut dihargai dan diapresiasi setinggi-tingginya. Hanya saja, yang tak boleh dilupakan ada sisi budaya media masyarakat itu sendiri. Sebab penyebaran hoax bisa begitu meluas dan menjadi viral, karena disebarkan pula oleh masyarakat yang tak memahami benar informasi yang benar dan informasi yang bohong dalam media sosial dan blog-blog yang dikelola secara individu dan juga secara terorganisasikan.

Bagaimana kita bisa dengan mudah mendapatkan berita-berita bohong itu masuk ke dalam grup sebuah media sosial, yang itu tentu saja kita tahu disebarkan oleh teman kita sendiri yang kita kenal baik.

Bahkan secara tidak sadar, seseorang yang memiliki kesadaran tinggi mengenai media sosial, sering kali terpeleset dengan menyebarkan sebuah gambar atau spanduk yang anti-keberagaman, meski dengan maksud menyindirnya. Tetapi dengan begitu, ioa telah turut menyebarkan pesan yang termuat di dalam gambar atau spanduk itu.

Maka mengatasi berita bohong, tak cukup dengan melakukan blokir, tetapi lebih kuat lagi menjadi sebagai gerakan kebudayaan, menjadikan masyarakat berbudaya sehat dalam bermedia.

Gerakan literasi media, termasuk internet yang sehat menjadi penting untuk dilakukan secara masif, dan menjadi pilihan starategis dalam menghadapi menguatnya hoax di negeri ini.***

Foto: KOMPAS

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.