KEMATIAN

Siapa yang tak berduka, manakala mendapati orangtua, istri, anak, kakak dan adik, dan orang-orang yang terkasih menemui kematian? Saya rasa tak ada seorang pun yang menyatakan tak bersedih, berduka, dan merasa kehilangan. Maka wajar, di seputar kematian itu, hampir selalu terdapat tangis, air mata yang terurai dan isak tangis yang tertahan.

Semakin dekat seseorang yang mengalami kematian, akan semakin dalam dan panjang rasa duka itu, rasa kehilangan itu. Berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun. Bahkan sebagian ada yang terus merasa kehilangan sepanjang sisa hidupnya. Ia merana, menyendiri, dan mungkin menyiksa diri, hingga ia menemui kematiannya.

Kematian dalam makna harfiah titik terjadinya akhir kehidupan jasadi, kehidupan duniawi. Lepasnya nyawa dari raga pelindungnya. Dalam makna religi, kematian menjadi momentum kembalinya Sang Makhluk (ciptaan) kepada Sang Kholiq (pencipta). Dalam makna ini, kematian menjadi kehilangan masa lalu, kehilangan atas sesuatu di masa lalu.

Adakah kematiaan yang menunjukkan pada kehilangan masa depan? Ini lah pasalnya, banyak orang tak menyadari, dan pernah ada tangis dengan cucuran air mata, kehilangan masa depan itu, kematian masa depan itu.

Ambil contoh, kematian masa depan, yang dialami anak usia dini. Mereka akan mengalami kematian masa depan, kehilangan masa depan, manakala tak berada dalam pola asuh yang benar dan perawatan yang tepat. Mereka akan mengalami kematian masa depan, manakala mereka tak berada dalam pendidikan yang memerdekakan, dan tak mendapatkan perlindungan yang sungguh-sungguh dari berbagai macam tindak kekerasan.

Kesalahan-kesalahan memperlakukan anak, sedang membunuh masa depan anak, ia bisa menjadi peragu dan tak berani mengambil keputusan. Ia menjadi penakut dan tak berani tampil sebagai penggagas dan inisiator. Ia akan mengalami trauma dan kehilangan semangat hidupnya manakala menjadi korban tindak kekerasan. Anak juga akan menjadi kehilangan kecerdasannya, manakala masuk dalam lembaga pendidikan yang mengedepankan hukuman dan kekerasan dalam proses pembelajarannya.

Sudahkah kesadaran seperti ini tumbuh dalam diri orangtua, dalam diri guru, dan dalam diri orang-orang yang memegang hak asuh anak usia dini? Mari menangis untuk kehilangan dan kematian masa depan, bukan menangis dan menyiksa diri bagi kematian dan kehilangan masa lalu.***

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.