Jujur

Seorang teman dengan suara lantang mengkritik mengenai sikap jujur. Dia bilang begini, kira-kira, “kalau anak-anak itu pasti jujur. Orangtua dan guru yang kadang tak jujur.”

 

Saya tak menanggapi segera kritik itu. Sebab saya justru didera berbagai pertanyaan dalam benakku. Ke mana sesungguhnya arah kritiknya diarahkan.

Kritik kepada guru, tak mungkin, bukankah mereka itu yang dipercaya sebagai penanam sikap dan perilaku yang mulai? Bahkan ada ujar-ujar, utak atik gathuk, “guru itu digugu dan ditiru?”

Kritik terhadap orangtua juga agak sulit dipahami. Tak mungkin orangtua bertindak tak jujur kepada anak-anak usia dini itu. Orangtua secara sosial dan budaya, bahkan agama, justru menjadi figur pertama dan utama bagi anak-anaknya?

Tak bisa menduga-duga, seperti teman saya, yang tentu memiliki cukup data, pilihannya membawa pada ranah yang lebih abstraks, lebih filosofis ketimbang ranah praktis.

Anak-anak di usia dini, tentu saja masih polos dan karenanya mereka selalu jujur. Setidaknya begitu anggapan umum terhadap anak-anak. Sehingga menurut teman saya itu, anak-anak tak perlu diminta jujur, mereka memang jujur adanya.

Tetapi bagi guru dan orangtua, mereka yang semestinya bertindak jujur; jujur kepada diri sendiri, jujur kepada anak, jujur kepada tetangga. Kepada Tuhan, ia tak perlu jujur, sebab berbohong pun Tuhan sudah pasti mengetahuinya

Saya kira pada posisi seperti ini kritik teman saya bisa diletakkan secara reflektif. Orangtua harus berperilaku jujur kepada anak-anak mereka. Guru harus berperilaku jujur kepada murid-murid di kelasnya.

Manakala hendak menanamkan sikap tak mengambil barang milik orang lain, guru dan orangtua hendaknya sekali-kali tak mengambil hak orang lain.

Misalnya, kalau memang dirinya tak berhak atas bantuan beras miskin, hendaknya ia meminta RT mencoret namanya dari daftar penerima bantuan sosial itu. Sebab beras miskin itu memang bukan haknya. Dengan menerima beras sama artinya ia mengambil hak orang lain.

Ketika guru hendak menanamkan nilai yang sama, ia harus juga jujur terhadap diri sendiri. Misalnya, dengan tidak menggunakan premium untuk kendaraannya. Sebab premium diperuntukkan bagi masyarakat miskin, dan ia secara jujur merasa dirinya bukanlah kelompok miskin itu.

Ini sekadar contoh sederhana dari tindak dan perilaku sehari-hari dalam bersikap jujur. Refleksi dari sebuah kritik yang dilontarkan teman saya dengan suara lantang itu.

Saat membaca tulisan ini, teman saya mungkin akan berteriak lantang kembali, “bukan itu maksudku.”

Tetapi saya akan menjawab dengan santai, “biarlah setiap orang akan memastikan sendiri di mana ketidakjujuran masih dipraktikkan. Tulisan ini hanya mengantarkan mereka pada sebuah kesadaran. Itu saja.”

 

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.