Lalu, Harus Bagaimana?

Setiap kali kampanye pemilihan Presiden, DPR dan Kepala Daerah, serentak atau bijian, selalu saja kita disuguhi dengan wajah-wajah sumringah, orang-orang yang begitu dekat dengan rakyat kecil miskin papa, hina dina.

Bahkan bukan pemandangan asing, orang-orang perlente, dengan baju kinyis-kinyis itu, tiba-tiba menjadi teman petani–mereka saling berpelukan, tiba-tiba menjadi teman pekerja jalanan–mereka saling berjabat tangan, tiba-tiba menjadi teman buruh pabrik–mereka saling berteriak-teriak kenaikan upah bulanan.

Semua orang menjadi bergembira, memasuki mimpi indah tentang damainya rakyat dan para calon pemegang kekuasaan. Tanpa batas, tanpa garis pemisah. Kehidupan di masa depan, seakan menjajikan sebuah komunikasi tanpa jarak, menyatu sang penguasa dengan kawulanya.

Lantas, ketika kekuasaan itu sudah ada dalam genggamannya, garis pemisah itu tiba-tiba muncul dengan begitu tegasnya, sebuah garis magis yang membentuk dinding pembeda: akulah penguasa, kaulah si jelata.

Meski akan terus berulang, seakan rakyat tak hendak bosan. Terlebih seluruh calon penguasa dan para tim suksesnya selalu bilang dengan lantang: rakyat yang baik, rakyat bijak, rakyat nasionalis, mereka yang mengikuti Pemilu, menyalurkan suaranya untuk memilih calon penguasa, yang kelak akan mengerjai rakyat habis-habisan. Menghisap kekayaan rakyat dengan cara korupsi dan manipulasi. Bahkan dengan tak malu-malu meminta uang sogokan untuk memudahkan perkara.

Lalu, rakyat harus bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.