Tentang Teman Lama

IMG-20160705-WA0002

Rabu, 6 Juli 2016. Pukul 19.45. Obrolan Kliwon bersama istrinya, Yuk Nah, dan dua anaknya, Maksum dan Laela, di ruang keluarga terhenti. Raungan motor produk tahun 79-an, terdengar keras di depan pintu gerbang.


Kliwon berdiri sambil membenarkan lipatan sarungnya, digulung ke atas beberapa kali. Ia menuju ke halaman dan membuka pintu gerbang itu.

Pengendara motor tua itu memasuki halaman rumah berumput hijau segar. Di dusun Kliwon, hanya tinggal rumahnya yang berumput, lainnya, sudah berbeton semua.

Tamu Kliwon itu datang dengan istri dan dua anaknya, masing-masing berusia sekitar 7 dan 2 tahun. Setelah melepas helm, Kliwon langsung berteriak dan memeluk laki-laki di hadapannya.

Dari dalam rumah, berlarian Yuk Nah, Maksum dan Laela. Mereka berhenti di depan pintu rumah. Masing-masing saling pandang, tak bersuara sepatah kata pun.

“Ah, kau rupanya. Malaikat apa yang telah mengirimmu ke sini?”

“Kau berlebihan. Biasa saja kan seorang teman lama mengunjungi temannya,” kata tamu itu sambil melepas pelukan Kliwon.

“Pak Ne, mbok diajak masuk, malah hanya ngobrol di halaman,” kata Yuk Nah. Ia berjalan ke arah istri tamu itu, Maksum dan Laela menuntun kedua anak kecil itu ke dalam rumah.

“Kita tidak usah masuk, ngobrol di tempatku merokok,” kata Kliwon.

Tamu itu mengikuti Kliwon. Mereka duduk berhadapan di gazebo khusus tempat Kliwon menerima tamu-tamunya yang memiliki kebiasaan merokok!

“Ke mana saja kau selama ini?”

“Selesai kuliah dulu, saya merantau menjelajah negeri ini. Masuk keluar hutang.”

“Hebat-hebat. Saya tak memiliki keberanian seperti itu.”

“Mau minum apa, Pak?” Maksum berdiri agak lama, ia baru berkata saat perbincangan Bapak dan temannya itu jeda.

“Di rumah tidak ada minuman untuk dia. Kau mesti belikan susu jahe,” kata Kliwon.

“Pak, ini malam lebaran pertama, belum ada angkringan yang buka.”

“Bagaimana kau bisa tahu, mencari saja belum.”

“Sudah, minum yang ada saja,” kata tamu itu.

Kliwon memelototkan mata ke arah Maksum. Tanpa berkata lagi, Maksum melangkah pergi.

“Kau terlalu berlebihan,” kata tamu itu.

“Dengar. Kita tak pernah bertemu puluhan tahun. Aku tak akan melewatkan minuman kesukaanmu.”

Berjam-jam mereka berbincang tentang masa lalu. Mengalir deras, seperti aliran sungai berhulu di pegunungan yang hijau dengan hutan-hutan yang terjaga.

Ketika tamu itu hendak pamit, berkali-kali Kliwon meminta mereka menginap saja. Esok pagi baru berangkat melanjutkan jalan.

Tapi tamu itu mengatakan ia harus terus jalan. Masih ada beberapa teman yang ingin ia kunjungi. Masih banyak yang ia datangi untuk bersilaturrahmi.

Kliwon melepas kepergian tamunya di depan pintu gerbang. Dalam keremangan lampu pijar di pijar di sudut tembok rumahnya, tak ada yang tahu, air mata mengalir di kedua sudut mata Kliwon yang cekung.***

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.