Lantun Doa Bertumpuk Baris

Ratibul Haddad, masih terus menebar, melingkar-lingkar, ekor-ekor cahayanya tampak melesat cepat,


ke arah cungkup kecil di pusaramu, tempat jasadmu terbaring sunyi, tapi ruhmu terus memuji Allah, bersama bumbungan wirid yang masih tak berhenti.

Suara-suara itu menggema-gema, dalam lingkar padat penuh sinar-sinar kilat yang nemercik, menyobek tabir antara makhluq dan Khaliq, menggetarkan setiap tingkat langit, malaikat-malaikat berbasis memanggul beban, sejumput doa dari manusia-manusia fakir, yang hanya bisa tanpa pernah memberi.

Tapi engkau tahu, ruhmu yang ada dalam lingkar ridlo dan berkah ilahi, syafaat rasul sebagai kakek buyutmu sendiri, tak pernah mengharap apapun, kecuali hanya ingin memberi.

Mungkin saja, engkau kini sedang tersenyum, sebab apa yang pernah engkau beri dan tanpa pernah engkau minta, telah menjadikan manusia-manusia fakir ini, mampu menghadapi kehidupan.

Ratibul Haddad masih terus membuncak, membuat gelombang laut pasang tak terkendali, bacaan tanda cinta kepada para sayyid, dan engkau ada di dalamnya.

Foto: hamdani dan kuryani utih

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.