Habib Muh, Saya Memanggilnya, “Abah”

Habib Muhammad Haryanto bin Habib Abu Abdillah, ia memiliki silsilah langsung ke Kanjeng Rosul melalui Dewi Fatimah. Saya memanggilnya Abah, Abah Muh.

Perjalanan masa kanak-kanak sampai remaja, saya hampir sepenuhnya berada dalam arahannya. Saya ingat benar, ketika saya di bangku MTs, tahun 1982, turut memproduksi kaos kampanye partai dukungannya.

image

Saya melihat, bagaimana Abah begitu sibuk, sebentar pergi, sebentar datang. Begitu pun orang banyak sebentar datang dan sebentar pergi. Sebagiannya meminta uang, katanya untuk membeli bensin dan rokik.

Meski setahuku, Abah bukan calon legislatif yang turut bertarung memperebutkan kursi kekuasaan. Ia bekerja untuk partai, bukan untuk kemenangan dirinya sendiri.

Ketika saya duduk di bangku Aliyah, Abah sering mengajak dalam berbagai acara yang begitu ragamnya: IPNU, Anshor, dan tentu acara NU.

Dari perjalanan ini saya begitu banyak mendapat pengalaman yang saya yakin belum banyak dialami remaja seusiaku ketika itu.

Tahun 1985, Abah punya acara pelatihan UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga), seingatku itu kerja sama LKKNU dengan BKKBN. Hadir ketika itu, Luqman Saefuddin, yang kini menjadi Menteri Agama.

Tahun 1986, Abah punya acara Pelatihan Motivator Pengembangan Masyarakat dan Perlindungan Konsumen Pedesaan. Saya dipercaya menjadi peserta, bersama para kiai-kiai dari 23 pesantren se provinsi Lampung. Situasi saya ketika itu, lebih tepatnya disebut culun.

Setelah acara ini, saya lepas bagai busur panah dari gendewanya. Begitu banyak saya terlibat dalam berbagai kegiatan yang dilakukan Abah. Sampai mendirikan IJKP (Ikatan Jaringan Kerja Pesantren) Provinsi Lampung. Dan tahun 1989, berubah nama menjadi LPMD (Lembaga Pembinaan Masyarakat Desa).

Ketika akan melakukan kerja sama dengan SBD (Sekretariat Bina Desa) sekitar tahun 1987, saya diutus Abah ke Jakarta. Katanya harus menemui Yuni S. Sebagai santri, saya langsung berangkat, dengan bekal nekat.

Sampai di kantor SBD, waktu itu masih di Gudangpeluru, saya langsung bertemu front office, dan bertanya dengan gagah berani; “mau bertemu Mbak Yuni.”

Perempuan yang duduk itu berdiri dan memastikan nama orang yang ingin saya temui. Jawabannya sangat membuat saya lemas, “Di sini nggak ada yang namanya Mbak Yuni.”

Lalu saya bertanya dengan sedikit ragu–dalam merutuk, jangan-jangan Abah keliru, “Kalau yang namanya Yuni ada?”

“Ada, tapi bukan Mbak, Mas Yuni Suwarto,” katanya.

“Ya, saya ketemu dia saja.”


Pada gerakan awal ini, saya menjadi Motivator pedesaan, dan berkali-kali dikirim ke Jakarta mengikuti berbagai pelatihan, sebagiannya pergi bersama senior saya, Hamdani.

Lalu saya menjadi community organizer untuk Lampung bersama teman-teman lain, di bawah koordinasi Mas Yuni Suwarto.


Pramuka. Ini tempat saya mendapatkan banyak pengalaman dan pendidikan mengenai karakter, kedisiplinan, dan konsistensi. Abah, selalu memberikan kepercayaan penuh.

Bahkan pernah menunjuk saya sebagai Ketua Umum Perkemahan Ma’arif I tingkat Provinsi.

Remaja semuda saya, sudah diberikan kepercayaan yang sangat besar, dan Abah yang melakukannya.

Dan kini, ketika saya menjadi dewasa, semua pengalaman itu, sungguh menjadi dasar yang amat kuat, bahkan hampir dalam seluruh profesi yang saya geluti.

Sebut, misalnya, dalam dunia tulis menulis. Abah yang meminta saya menerbitkan newsletter Derap Pesantren, yang diterbitkan IJKP. Lalu, dianjurkan belajar menulis di Warta NU, majalah Pesan (terbitan LP3ES), dan Dinamika Pesantren (terbitan P3M).

Ketika tulisan saya pertama dimuat di Lampung Post, Abah lah, orang kedua yang memujiku, setelah bapakku yang kader Anshor militan itu.


Hari ini, Abah sudah meninggalkan kehidupan aktivisme, ia kembali ke pangkuan Ilahi sepuluh tahun yang lalu. Dan saya hanya bisa berdoa untuknya.

Tapi saya yakin seyakin-yakinnya, setiap anak yang pernah merasakan bimbingannya, betapa sangat bermanfaat bagi kehidupan ini.

Foto: Hamdani dan Kuryani Utih

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.