Bersabar Kepada Teman

 

Bercengkerama bersama teman memang selalu menyenangkan. Tetapi bagimana jika teman itu hanya maunya didengarkan?


Bersabarlah. Nasihat klasik yang selalu bisa didapatkan manakala menghadapi persoalan seperti ini. Terima saja, nikmati saja situasinya.

Begitulah, sikap yang akhirnya diambil Kliwon, setiap kali Dirman sahabat lamanya bertamu di rumahnya. Ia siapkan energi sebanyak yang ia lakukan untuk bisa bersabar.

Celakanya, kali ini ia tak hanya harus benar-benar bersabar. tetapi harus pula geregetan. Pasalnya, Dirman membawanya ke masa lalu, indahnya masa remaja sewaktu di pesantren dulu.

Awalnya, Dirman berbicara mengenai gerakan anak muda NU yang menyerukan untuk “Ayo Mondok”. Sebuah gerakan untuk mengajak masyarakat memasukkan anak-anak ke pondok.

Kliwon sangat antusias, meski tetap saja sebagai pendengar setia, dan mengiyakan manakala Dirman meminta persetujuan atas pendapatnya.

“Sebagai orangtua harus mendukung gerakan kaum muda NU ini,” katanya.

Kliwon menganggukkan kepala berulang-ulang. Lalu menatap sahabat lamanya itu dengan pandangan sungguh-sungguh.

“Saya dengar ada musabaqoh kitab kuning juga,” kata Kliwon.

“Ah, kalau yang ini sih, berbau politis.”

“Kenapa bisa begitu?”

Dirman tak menjawab pertanyaan Kliwon. Ia menggaruk-garuk kepala sebentar, lalu balik bertanya, “kamu ingat Astuti, adik kelas kita dulu di pondok?”

“Urusan musabaqoh belum selesai sekarang malah bicara Astuti,” ucap Kliwon dengan nada tak serius.

“Lebih asyik bicara Astuti ketimbang musabaqoh itu.”

“Tak baik bicara perempuan yang sudah bersuami.”

“Yang kita bicarakan Astuti ketika di pondok. Dia belum menikah kan?”

Tak lagi memerdulikan Kliwon, Dirman terus saja bicara soal Astuti. Soalnya matanya yang lentik, soalnya suaranya yang merdu saat menyanyi, tapi juga berwibawa saat pidato di mimbar muhadloroh.

“Kamu tahu?”

“Soal apa?”

“Astuti.”

“Iya, kenapa Astuti?”

“Menurut teman-teman, Astuti sebenarnya menyukaimu.”

Kliwon tertawa lepas mendengar ucapan Dirman. Tetapi diam-diam Kliwon ragu terhadap dirinya sendiri. Ia ingat benar ketika berkemah, Astuti memang selalu dekat dengannya. Tapi ia tak pernah mengatakan apa-apa, begitu juga Kliwon, tak pernah menyampaikan perasaannya.

Lalu, bagaimana Dirman bisa berkata begitu? Sayang, waktu tak bisa diputar kembali. Yang pasti, Kliwon sudah hampir lupa semuanya tentang Astuti. Bahkan raut wajahnya.

Hanya satu yang masih selalu terasakan, “aroma tubuhnya,’ bisiknya dalam hati.

“Mau ke mana?” Dirman berteriak saat Kliwon tiba-tiba berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah.

“Mau buang bau badan,” kata Kliwon***

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri. Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

2 tanggapan untuk “Bersabar Kepada Teman

  • 12 April 2016 pada 8:04 pm
    Permalink

    Kisah tragedi pripadi yo… Toyib2

    Balas
    • 12 April 2016 pada 8:13 pm
      Permalink

      Kisah bagi siapa saja yang merasa seperti itu selama mondok #ayomondok

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.