Kliwon, Pencarian Sang Khaliq (3)

Pedagang ayam  itu diam. Kliwon melihat teman lamanya itu melalui ekor matakanannya. Ia menarik nafas dalam-dalam. “Maafkan saya,” katanya.

Pedagang ayam itu mengangkat kepala, menoleh dan memandang wajah Kliwon. Tetapi bibir kering itu tak juga terbuka. Lalu ia menepuk pundak Kliwon tiga kali, dan beranjak mendekati keranjang dagangannya. Ia menangkap satu ekor ayam dalam keranjang itu. Ayam jantan muda berbulu hitam, tanpa warna yang lain.

“Ayam ini sudah beberapa kali ditawar orang. Tapi tidak kujual,” katanya sambil duduk kembali di samping kanan Kliwon.

“Apa urusannya denganku. Aku suruh membelinya?”

“Aku ingin kau memilikinya. Kau orang yang terpilih merawatnya.”

“Takhayul. Aku percaya takhayul,” kata Kliwon.

“Tak usah mencoba berbuat baik padaku. Apa pun yang kulakukan dahulu, tak pernah aku berharap pembalasan,” lanjutnya.

“Ah, kamu terlalu berlebihan. Ini bukan takhayul. Apa salahnya seorang teman memberi sesuatu kepada temannya?’

Ia mengangsurkan ayam jantan muda itu. Kliwon tak menggerakkan tangan. Ia menatap pedagang itu. Matanya tampak sebentar mengedip dan sebentar melebar. Terus berulang. Ia sama sekali tak menyentuh ayam itu.

“Kalau tak mau, biar untuk saya saja,” kata Sumarni saat beberapa langkah lagi di arah sebelah kanan Kliwon dan pedagang ayam.

Perempuan itu mengenakan jarit batik warna gading, kembang-kembang di antara burung merak dengan ekor terbuka lebar. Baju kebayanya sudah tampak diajhit di beberapa bagian. Bahan broklat menjadikan kulit tubuhnya terlihat jelas. Selindang tipis berwarna coklat muda membelit di lehernya.

“Ia masih selalu tampak muda,” kata pedagang ayam.

“Tak usah membicarakan dia.”

“Kenapa, kamu masih ada sambung rasa dengan dia?”

Kliwon tak menggeleng, tetapi juga tak menganggukan kepala. Ia tak memandang ke arah Sumarni, meski hanya sebentar aja. Apalagi menyapanya.

“Kamu melamun? Saya tahu, kamu pasti masih selalu memikirkannya. Bagaimana dengan Saudah istrimu?”

Kliwon tak menjawab. Sumarni sudah berdiri tepat di depan mereka. Pedagang ayam itu berdiri. Langkahnya terhenti, saat mendengar Sumarni menegurnya, “kenapa pergi?” (Bersambung)

Sumber gambar: freepptbackgropund.com

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak

Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri.

Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *