Kliwon, Pencarian Sang Khaliq (2)

Minggu pagi, belum lagi pukul 06.00. Suara para pedagang dan pembeli terdengar riuh rendah.

“Tidak bisa, tambah sepuluh ribu lagi,” kata pedagang ayam kampung sambil memegangi ayam babonnya.

“Ini sudah hampir bertelur. Dipelihara tiga lagi akan memberi telur selusin,” katanya.

“Siapa peduli. Saya beli bukan mau dipelihara,” kata laki-laki yang sudah lebih setengah jam lamanya terus tawar menawar harga itu.

“Lalu?”

Calon pembeli itu mendekatkan mulut ke telinga pedagang. Bibirnya tampak berbisik-bisik. Sang pedagang tampak mengangguk-anggukan kepala. Lalu ia memberikan ayam kampungnya sesuai dengan harga yang diminta laki-laki itu.

“Apa yang dia bilang?”

Wakidi menoleh ke arah Kliwon, yang dari tadi duduk undakan masuk ke kios penjual kartu pedana seluler.

Pedagang itu mendekati Kliwon dan duduk di sebelah kanannya. “Mau tahu saja,” katanya sambil menepuk punggung Kliwon.

Ia memasukkan uang hasil penjualannya ke dalam tas pinggangnya yang berwarna hitam, dan mulai memudar. Bahkan talinya pun sudah disambung dengan tali rafia.

“Serius mau tahu,”

“Kalau mau kasih tahu. Tidak pun tak mengapa.”

“Ah, kita kan sudah berteman sejak lama. Bahkan lapak tempatku jual ayam juga kamu yang memberi.”

“Terus.”

“Kamu dulu sangat penyabar. Sekarang kamu jadi lebih sensitif.”

“Saya tak memintamu menilaiku. Lupakan saja masa lalu itu.” [Bersambung]

Sumber gambar: freepptbackgropund.com

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak

Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri.

Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *