Kliwon, Pencarian Sang Khaliq (1)

“Sekali-kali kamu harus bisa marah. Kamu terlalu mengalah,” kata Pak Dhe No. Nasehat seperti sudah diucapkannya tak hanya satu kali.

Seperti yang sudah-sudah, Kliwon selalu diam setiap kali mendengar nasehat tetangganya itu. Rumah mereka memang bersebelahan. Hanya dipisahkan jalan setapak selebar 2 meter menuju ke makam di dusun Bluwangan.

“Kalau tak mau bicara, ya sudah, minum saja kopimu,” kata Pak Dhe No.

Kliwon mengambil cangkir dan mendekatkan ke bibirnya. Cangkir di tangannya tampak bergetar. Nafasnya tak beraturan. Mata cekungnya menatap lurus ke arah Pak Dhe No yang duduk tepat di hadapannya.

“Ada yang ingin kamu katakan?”

Kliwon menggelengkan kepala. Ia meletakkan kembali cangkir kopi itu di atas meja. “Saya pulang dulu, kudengar istriku sudah beberapa kali memanggil,” katanya sambil berdiri.

“Ya, sebaiknya kamu segera pulang, ketimbang terjadi perang puputan di rumahmu.”

Pak Dhe No mengantarkan Kliwon sampai ke depan teras rumahnya. Ia beberapa kali menepuk pundak tetangganya itu dan sambil mengatakan, “kamu harus bisa marah. Diammu bukanlah lagi emas, tetapi lumpur yang tak berguna.”

Setelah menarik nafas dalam-dalam, Kliwon membuka pintu rumahnya dan gagal. Kliwon menempelkan wajahnya ke kaca pintu. Rupanya anak kunci terpasang di bagian dalam.

“Tak usah masuk. Tidur saja di luar. Telinga tak pernah dibersihkan, dipanggil sampai bibir sobek tak mendengar juga,” terdengar teriakan keras dari dalam rumah.

Kliwon melangkah surut. Anak kunci dimasukkan ke dalam saku celana. Seperti yang sudah-sudah, tanpa bicara apa pun, ia melangkah ke kursi bambu di gazebo depan rumahnya.

“Terkunci lagi, Kang?” Tanya Wakidi dari depan pintu pagar rumah Kliwon saat mengambil uang jimpitan ronda. Kliwon tak menjawab, dan Wakidi pun pergi begitu saja.

Suara seperti bambu patah terdengar di antara desir angin malam, saat Kliwon merebahkan tubuhnya di atas kursi bambu. Ia memiringkan tubuh membelakangi rumahnya, saat lampu di kamarnya padam.

Sumber ilustrasi: freepptbackground.com

Mukhotib MD

Jurnalis dan Pendiri Tabloid PAUD, bacaan tepat orangtua bijak

Penulis novel Kliwon, Perjalanan Seorang Saya, Air Mata Terakhir, Pesona Sumilah, Den Ayu Putri.

Konsultasi Program dan Manajemen, dan Fasilitator Pendidikan Kritis Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *